 Sekedar mereview ulang. Ulasan ini telah dimuat di Media Indonesia Rabu, 28 Juli 2004. Semoga bermanfaat.
SEL-SEL otak janin sudah tumbuh dan berkembang sejak bulan pertama dalam kandungan. Lalu membelah cepat mencapai 100 miliar sel, sambil berkembang sesuai tempat dan fungsi masing-masing.
Sejak kehamilan enam bulan, sel-sel itu saling berhubungan membentuk berbagai rangkaian fungsional (sirkuit) yang kompleks, ibarat rangkaian microchip komputer. Proses itu berlangsung sangat cepat dan kompleks sampai umur tiga tahun, melambat di usia sekolah dan remaja.
Kualitas kecerdasan anak tergantung pada kualitas sirkuit yang terbentuk sampai umur tiga tahun. Kualitas sirkuit tergantung pada kualitas rangsangan (stimulasi) yang didapat sejak di kandungan sampai umur tiga tahun pertama, dan kualitas nutrisi. Karena itu, kebutuhan nutrisi dan stimulasi dini sangat penting, terutama sejak di dalam kandungan sampai umur tiga tahun.
Pentingnya nutrisi
Karena tumbuh kembang otak sangat cepat, maka sampai berumur satu tahun, 60% energi makanan bayi digunakan bagi pertumbuhan otak. Karena itu, bayi membutuhkan kalori dan protein lebih banyak daripada orang dewasa. Juga, membutuhkan asam lemak esensial, asam amino, vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, dan seng. Beberapa penelitian menganjurkan pentingnya sialic (SA).
ASI mengandung semua kebutuhan nutrisi tersebut, termasuk asam lemak esensial DHA, AA, dan sialic acid(SA). DHA berpengaruh pada ketajaman penglihatan dan kecerdasan bayi. Asam lemak omega 9 (asam oleat) penting untuk membentuk pembungkus saraf. Asam animo membentuk struktur otak dan zat pengantar rangsang pada sambungan sel saraf. Vitamin B6 penting untuk enzim otak. Kekurangan zat besi dan yodium akan menyebabkan rendahnya kecerdasan. Seng dibutuhkan untuk pembelahan sel-sel otak.
SA dibutuhkan untuk hubungan antarsel saraf (sinaps) dan pembentukan gangliosida membran sel otak. Dimana gangliosida dan sinaps berperan penting dalam proses penghantaran impuls dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya. Secara keseluruhan SA berperan penting untuk proses pembelajaran dan pembentukan memori.
Pentingnya stimulasi dini
Stimulasi dini adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir (bahkan sebaiknya sejak janin enam bulan di dalam kandungan), dilakukan setiap hari oleh ibu atau pengasuh dengan cara bermain, penuh kasih sayang dan suasana gembira.
Stimulasi sebaiknya dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. Misalnya, ketika memandikan, menggantikan popok, menyusui, menyuapi, menggendong, bermain, dan menjelang tidur.
Rangsangan yang dilakukan dengan suasana bermain dan kasih sayang sejak lahir, terus menerus, dan bervariasi, akan merangsang pembentukan cabang-cabang sel-sel otak, melipatgandakan jumlah hubungan antarsel otak, sehingga membentuk sirkuit otak lebih kompleks dan canggih.
Semakin sering, bervariasi, dan berkelanjutan, maka semakin canggih dan kuat sirkuit yang terbentuk, sehingga akan memacu berbagai aspek kecerdasan anak yaitu, kecerdasan logika-matematik, emosi, komunikasi bahasa, musikal, gerak (kinestetik), visuo-spasial, seni rupa dll.
Stimulasi untuk bayi 0-3 bulan, memeluk, menggendong, menatap mata bayi, mengajak tersenyum, berbicara, membunyikan berbagai suara, dan menggerakkan benda berwarna mencolok, tengkurap-telentang, dirangsang untuk meraih dan memegang mainan.
Umur 3-6 bulan, ditambah dengan bermain 'cilukba', dirangsang untuk tengkurap, telentang bolak-balik, dan duduk.
Umur 6-9 bulan, ditambah dengan memanggil namanya, mengajak salaman, membacakan dongeng, merangsang duduk, dilatih berdiri berpegangan.
Umur 9-12 bulan, ditambah dengan mengulang-ulang menyebutkan mama-papa, memasukkan mainan ke dalam wadah, minum dari gelas, menggelindingkan bola, dilatih berdiri, berjalan dengan berpegangan.
Umur 12-18 bulan, ditambah dengan latihan mencoret-coret, menyusun kubus, puzzle, bermain boneka, sendok, piring, dan gelas.
Umur 18-24 bulan, ditambah dengan menanyakan, menyebutkan, dan menunjukkan bagian-bagian tubuh, menanyakan gambar, atau menyebutkan nama bintang & benda-benda.
Umur 2-3 tahun, ditambah dengan mengenal dan menyebutkan warna, menggunakan kata sifat, menyebutkan nama teman, menghitung benda, menggambar garis, lingkaran manusia, dan latihan berdiri di satu kaki, buang air kecil/ besar di toilet.
Setelah umur 3 tahun diarahkan untuk kesiapan bersekolah antara lain, memegang pensil dengan baik, menulis, mengenal huruf dan angka, dll. Stimulasi harus dilakukan setiap hari dalam suasana bermain penuh kegembiraan dengan pola asuh demokratis.
* Dr Soedjatmiko, SpA (K) MSi.
  | Thanks tante Ida, Dah mulai ngumpulin bahan untuk persiapan nih ya...ganbatte..(jadi curiga ;) )
Saya menstimulasi bayi dalam kandungan sejak awal kehamilan. Kami merasa amat dekat satu dengan yang lain sejak sangat awal lewat komunikasi pralahir, sehingga saat kelahiran sang bayi, kami tidak merasa sebagai pertemuan yang pertama lagi. Luar biasa deh pokoknya...nggak bisa nulisinnya...
Stimulasi pralahirpun membuat bayi secara phisik lebih kuat dan lebih komunikatif pula... Coba deh... |
 | yaa sya kira begitu...tapi yang lebih penting adalah dukungan dari kedua orang tua masing-masing..bagaimana ..melatih...bagaimana mendidik...dan bagaimana mendukung untuk sianak......di tambah lagi lingkungan yang mendukung.....thanks.. |
| |